author photo
Saya lahir di keluarga Persatuan Islam. Hingga saat ini, sebagian besar keluarga besar saya aktif di ormas Persatuan Islam. Setiap pekan, jika tak ada udzur, orang tua saya masih rajin hadir belajar dan bermudzakarah dengan tokoh-tokoh Persis, terkhusus kepada KH. Aceng Zakaria di Masjid PP Persis di Viaduct Bandung. Masjid yg dibangun pertama kali oleh Presiden Soekarno untuk Pengurus Pusat Persatuan Islam di tahun 1935.

Namun, walau demikian, saya 'nyantri' di Pondok Pesantren Salafiyah yg sangat kental ke-Nahdlatul Ulama-annya. Saya belajar Al Quran dengan talaqqi kepada Allahyarham KH. Ahmad Syahid (lahul Fatihah) di Pondok Pesantren Al Falah Cicalengka Bandung. Saat itu tak ada lembar ijazah, yg menunjukkan bacaan Al Quran saya sudah benar sesuai dengan kaidah ilmu Tajwid dan Bi Luhunil 'Arabiy (dialek orang Arab yg fasih). Ketika saya dan para santri lainnya sudah 'diusir pulang' dengan awal kalimat "Ajaztuka hadza kama ajazani Syaikhi...", maka itu tandanya lulus dan bersanad.

Saya kemudian dengan sorogan Kitab Safinatunnajah hingga Sulamut Taufiq di hari Senin dan Kamis bada 'Al Kahfi-an'. Selasa dan Rabu 'nyorog' Kitab Ushul Tsalatsah. Jumat 'Yasinan', Sabtu belajar akhlak dengan 'nyorog' Ta'limul Muta'allim. Belum lagi menazhamkan Hidayatush Shibyan, Alfiyah dan melafalkan Maulidusy Syarifil Anam.

Tak lama memang. Dan sama seperti saat belajar Al Quran, tak ada lembar ijazah yg berisi nilai dan kelulusan. Sepanjang Kyai saya belum mengatakan "Ajaztuka hadza kama ajazani Syaikhi", sepanjang itulah saya belum lulus. Sampai sekarang.

Saya 'santri kalong'. Yg datang mengaji hanya sore hingga malam hari sekitar jam 10 malam. Paginya, saya sekolah umum biasa. Tidur di asrama yg berfungsi sebagai gudang beras dan sering disebut dengan 'kobong' hanya sesekali saja. Kalau ada agenda 'Jam'iyyah Kasthroliyyah' (memasak nasi plus ikan asin menggunakan kastrol) saja yg dimakan hingga kerak terakhir secara berjama'ah.

Lepas lulus pendidikan formal saya tak bisa lepas dari pesantren dan santri. Saya kemudian memgabdi di Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga Sumatera Selatan. Saya lulusan teknik, seni dan manajemen, tapi saya mengajar ilmu yg memang sudah ada sanadnya: Al Quran. Qadarullah, di sana saya sampai menjemput bidadari putri pertama Kyai.

Sering saya bilang ke para santri (sekarang sudah menjadi para Guru yg lebih hebat dan shalih, masya Allah) di ruang kelas dulu, saya bukan santri. Dan, tak penting bergelar santri. Karena gelar akan ditinggalkan. Yg penting adalah berkarakter santri yg meliputi setidaknya 10 Muwashafat Tarbawi.

Dalam Ta'limul Muta'allim, Al 'Allamah Syaikh Burhanuddin Az Zanurji menuliskan bahwa di antara adab 'santri' itu adalah bercita-cita tinggi, menjadikan ilmu sebagai prioritas, memuliakan kitab dan guru, tidak makan berlebihan, tidak tidur berlebihan, tidak mudah panik dan sebagainya.

Artinya, sesiapa yg mengamalkan adab 'santri', dia berkarakter santri tanpa harus digelari santri. Jangan 'dikapitalisasi' sendiri. Seakan-akan, jika tak mondok di pesantren 'sana' artinya bukan santri. Jika tak mendukung 'sana', bukan santri. Lha karepmu opo sek?

Jika begini namanya POLITISASI SANTRI. Dulu NKRI, Pancasila, diakui sendiri. Sekarang kok heladalah nambah dengan santri.

Maka, adalah benar bahwa Sandiaga Shalahuddin Uno itu BUKAN santri. Dia tak pernah 'mondok'. Tak perngah tidur di 'kobong'. Tapi, insya Allah beradab dan berakhlak santri. Kalau KEBERATAN jika Sandi digelari santri, mestinya mereka keberatan pulalah saat Slank menjadi duta santri. Bahkan, mestinya sangat keberatan ketika Basuki Tjahya Purnama menjadi Sunan (mahasantri).

Lagian, jika kalian 'keberatan', 'eek' dulu aja biar agak 'hampangan'.

***
Anak muda dalam tautan yg menggemaskan itu BUKAN Uno kecil. Tapi AMI kecil. Walau saat dewasanya, SAMA-SAMA TETAP MENGGEMASKAN DAN TAMPAN KETERLALUAN #ProtesBlokir 😜

#AMI
#SelamatkanIndonesia
#LintasanPikiran
Next article Next Post
Previous article Previous Post